Cafe Soto Banjar

KAMIS 20 Feb 2020 ada pemandangan pagi tak biasa di SABS, meriah dengan adanya pasar kamisan yg diadain Crew SL. Kelas Qur’an & kelas Ummi berjalan seperti biasa, tapi bedanya sehabis kelas Qur’an Cah bocah langsung bergegas ke pasar kamisan. Cah bocah 04 Banjar pun turut mondar mandir dari satu stand ke stand lain. Sekumpulan anak duduk di pojok sambil menikmati bubur ayam mas dedik. Sepertinya menu bubur Ayam paling laris di pasar kamisan kali ini. Setelah puas berkeliling & jajan di pasar kamisan,
Cah bocah kembali ke rutinitasnya masing-masing. Diskusi pagi cah bocah 04 Banjar dimulai dg topik “Ide apa yang nyangkut di kelapa kalian setelah dari pasar Kamisan SL*?
Celoteh mereka pun bersahutan satu sama lain. Kebanyakan sih ngomongin bubur ayam, piscok, dan kopi geratis.

Berdasarkan hasil survey pasar mereka, katanya sih yang paling laris itu yang jual makanan. Orang-orang SABS doyan makan✌🏼.

Lalu munculah ide buat buka Cafe pagi dengan menu utama Soto.
Hari berikutnya mereka pun keliling nyebar pamflet promosi dengan inisiatif mereka sendiri😅 ya gaya marketing sederhana ala anak2. Tapi cukup berimpact menarik perhatian warga SABS. Beberapa anak juga sudah mempersiapkan perangkat2 untuk jadi pelayan & kasir. Inisiatif mereka diluar dugaan ku. Bahkan aku gak kepikir sejauh itu untuk membuat persiapan form order hingga catatan kasir dengan profesional ala2 cafe sungguhan. Mungkin DNA pengelola Cafe udah tertemplate di diri mereka. Entah hasil belajar dari cafe sabs sebelumnya atau mungkin juga hasil pengamatan tiap diajak ortu pergi ke warung makan. Jadi seringlah ngajak Cah Bocah ke luar makan di Restoran ya pak bu😄✌🏻.

H-4 mereka sudah antusias untuk mendesign lay out cafe. Meja dipindah sana sini, tikar digelar hingga hiasan hasil karya tugas WWP dari benda-benda hasil mungut dari pantai juga telah terpajang menghiasi kelas. Mereka lupa kalau saung ini sering basah kuyup kalau hujan datang. Akhirnya dibongkar lagi deh.

Perencanaan pun dimatangkan, pembagian tugas, ngelist bahan-bahan hingga time managemen jadi bahan diskusi siang hari itu. Ada anak yang ketinggalan nulis, tapi dia pantang pulang sebelum selesai, hingga minta bantuan umi untuk melengkapi list bahan-bahan yang dia gak paham, semua atas inisiatifnya sendiri. Mungkin mereka membayangkan bahwa dirinya adalah Owner yang lagi mempersiapkan Grand Opening Cafenya yang baru. Jadi harus serius.

And the end of the day, diskusi hari itu berujung pada keputusan untuk nginep di sekolah di malam selasanya, demi mempersiapkan cafe pagi yang dibuka jam 08.00 agar para orangtua bisa menikmati makan pagi di Cafe mereka.
Ya, sejak awal para orangtua menjadi main target mereka. Mereka sangat berharap para orangtua bisa datang. Itu salah satu pemantik generator yang membuat mereka menggebu-gebu mempersiapkan Cafe SSB.

Jadilah rencana Buka Cafe ini berlanjut. Hari Senin Cah Bocah datang dengan membawa perlengkapan perang yang lengkap, mulai dari tas besar beserta isinya hingga tentengan alat-alat masak hasil minjem dari dapur Ibu, tapi sayangnya beberapa dari mereka melupakan senjata utama lainnya Alat Mandi.

Hari senin dihabiskan untuk menyiapkan lay out cafe hingga hitung menghitung HPP dan menentukan harga jual produk di Cafe mereka.
Berhubung main target mereka para orang tua, beberapa dari mereka ingin mematok harga yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Tapi pak ketua dengan bijaknya melontarkan isi hatinya yang teringat dengan adek-adek kelas mereka. nek larang, piye adek-adek sik cilik. Kan sangune mepet, mesake nuw, begitu kurang lebih celotehnya. Dengan keahlian alamiahnya sebagai anak sensing ekstrovet, akhirnya dia berhasil mempengaruhi isi kepala seluruh kelas.
Harga diturunkan dan salah satu strategi marketingnya dapat diskon kalau bawa piring sendiri.

Setelah siang-sore bekerja keras mempersiapkan tempat, belanja, hingga hitung menghitung. Malampun tiba, tapi sebelum mata hari benar-benar tenggelam mereka telah sepakat untuk menjaga satu sama lain. Mereka paham kalau malam itu hanya ada mereka & 2 mbak fasilnya di sekolah. Matahari pun menutup sinarnya, sekolah mulai gelap. Cah bocah yang ketika siang sangat aktif berubah jadi sangat kalem malam itu dan sesuai kesepakatan mereka patuh sama petugas keamanan, pak ketua dan mbak fisilnya.

Malam itu, sebelum Nida Halim digunain untuk kajian, cah bocah dengan kusyuk nya berdzikir & memurojaah surat-surat yang mereka hafal. Ada yang berjama’ah murajaah surat An-Naba dan ayat kursi dengan keras, efek ketakutan dengan suasana malam sekolah yang gelap & sepi😅. Setelahnya malam digunakan untuk sharing santai & menyiapkan strategi untuk Hari H buka cafe. Rencananya Cafe dibuka Hari Selasa 25 Feb 2020 jam 08.00 WIB di saung paling pojok selatan SABS.

Selasa pagi mereka bangun sebelum subuh untuk bersiap sholat tahajjud & sholat subuh. Sayangnya, malam itu beberapa dari mereka tak cukup nyenyak tertidur hingga berimbas pada fisik mereka. Meski begitu, tetap saja semangat mereka menggebu. Pagi itu suasana riuh dengan aktivitas pagi bersih diri hingga masak memasak untuk Cafe. Jam 08.00 hampir semua menu telah siap. Satu dua orangtua telah datang.
Menu soto, roti bakar, tempe, bakwan, omelet dan minuman hangat siap memanjakan cacing-cacing di perut yg teriak2 meminta makan di pagi hari🤭.

Mereka semangaat menyambut kedatangan para orangtua, hingga mereka lupa kalau mereka belum makan. Butuh usaha ekstra untuk merayu agar mereka mau makan.

Cafe kami dibuka dengan pemandangan penuh romantisme pagi itu. Ayah Mubarok bersama putri kecilnya Quenaa terlihat sangat menikmati jamuan pagi sambil menikmati pemandangan bengawan di pagi hari. Qtime untuk Ayah & putri kecilnya.

Terlihat wajah Cah bocah semakin optimis ketika melihat orangtua datang ke cafe dan mencicipi masakan mereka.

Kemudian satu, dua hingga puluhan orang datang memadati cafe SSB. Melebihi ekspektasi kami. Cafe pagi kami laris manis. Meski nasi kami ada yang masih ngletis✌🏼. Cah bocah sampai masak nasi 4 kali untuk cafe pagi kami. 2 kali berhasil, 2 kali ngletis lalu dimasak lagi sama mbak fasilnya. Faktor nasi ngletis jugalah yang menjadi penyebab makan pagi kami telat. Pagi itu kami masak nasi sangaat lama. Hingga lauk lainnya telah siap, tapi nasi masih belum juga masak. Oke baiklah, kedepan kami akan belajar ngeliwet dengan lebih baik lagi.

Keriuhan cafe dengan padatnya pelanggan yang datang ditambah semakin riuh dengan suara teriakan para pelayan kepada para penguasa dapur yang meminta orderannya untuk segera disiapkan dengan cepat. Mungkin mereka pikir para penguasa dapur ini adalah lulusan Master Cheff Indonesia hasil didikan Cheff Juna yang bisa menghidangkan makanan dengan sekejap. Do’ain saja semoga beneran ada yang jadi master cheff nantinya. Aamiin

Selain nasi yang cepat habis, menu roti bakar & omelette jadi menu best seller di cafe kami. Cafe akhirnya tutup kurang lebih pukul 11.00 WIB, dengan sisa bakwan yang kemudian dipromosikan cah bocah dengan harga 1000 dapat 3.

Berdasarkan catatan pak kasir, total pengunjung yang datang kurang lebih 45 orang dengan rentang usia 35(++) hingga 3(-) a.k.a Balita. Itu tandanya cafe kami sangat family able.

Terlihat wajah sumringah pak kasir & pak ketua saat melihat kertas merah bergambar Bung Karno mengisi kantong uang mereka. Untung yang mereka dapat cukup banyak. Setidaknya lebih banyak daripada hasil jualan sebelum-sebelumnya.

Terlepas dari jumlah pengunjung & keuntungan materi yang mereka dapat. Intangible aset (aset tak terlihat) yang mereka dapat jauh lebih besar daripada itu. Selama seminggu mereka telah belajar menganalisis potensi pasar, membuat perencanaan, melakukan organizing hingga mengeksekusinya menjadi nyata. Aset pengalaman managerial & kemampuan bekerjasama sangat berharga untuk mereka menghadapi kerasnya masa depan.

Memang effort mereka untuk buka cafe cukup menguras tenaga. Banyak dari mereka yang kecapean. Maklum, malam harinya tidur mereka kurang nyenyak ditambah fisik yang sudah diajak bekerja sejak pagi sebelum mata hari muncul. Tapi tak apa, mereka itu anak-anak tangguh yang gampang untuk bangkit lagi kog. Walaupun capek masih aja main bola di lapangan selepas dzuhur. Sampe rumah mungkin tepar.

Akhir cerita, kami ucapkan terimakasih untuk seluruh pengunjung yang datang,
terkhusus untuk para Ibu yang telah merelakan alat masaknya diangkut ke sekolah, dan terkhusus lagi untuk para Orangtua yang telah bersedia hadir memberi suplay semangat untuk Cah Bocah 04 Banjar.

Harap selalu mensuport kami ya pak bu. ditunggu pastisipasinya di kegiatan kami selanjutnya🤗


Na’imatun Muslimah/Fasilitator Kelas 4 Banjar ( 2019/2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *