Panggilan Yang Lain

Panggilan Yang Lain

Adzan dhuhur Berkumandang sebagai penanda jeda dalam kegiatan anak-anak. Namun seringkali mereka menganggap enteng panggilan adzan tersebut, karena masih saja ada yang berlarian, duduk dikelas, ngobrol dan lain sebagainya.

Tibalah waktu Iqamah dan shalat akan dimulai, tapi masih saja ada anak-anak yang belum nampak di barisan shaf nya. Hingga rakaat kedua mereka belum juga datang, baru di rakaat ke 3 suara langkah kaki mereka terdengar.

“Pasukan Telat” para putri-putri berjajar di shafnya untuk menambah rakaat yang mereka lewatkan. Hingga dzikir selesai ada dari mereka shalat nya saja belum selesai. Subhanallah.

Lalu tibalah waktu kultum Dzuhur, ini adalah momen untuk merubah kebiasaan para “Pasukan Telat” ini. Hari Selasa adalah jadwal mas Han d dan Mas Niko untuk mengisi kultum. Karena mas Niko telah mengisi kultum dhuha, maka kultum Dzuhur ini mas Han yang mengisi.

Mas Han mulai bertanya,” hai pasukan telat, kenapa kalian bisa telat datang waktu shalat??? Apa tidak dengar adzan??? Atau wudhuny antri??”. Namun tidak ada dari mereka yang menjawab.

Mas Han pun melanjutkan pertanyaannya,” coba kalian pilih, dipanggil Allah lewat adzan langsung ke musholla atau harus menunggu dipanggil Allah dengan cara lain ( terompet sangkakala)????”

Seraya mereka menjawab,” dipanggil lewat adzan”. ” Kalau begitu besuk tidak ada lagi yang boleh telat saat shalat Dhuha maupun shalat dhuhur!!”, Sahut Mas Han.

Dan benar saja, besoknya ketika Iqamah telah berkumandang anak-anak yang tadinya telat datang saat shalat, kini mereka tidak terlambat lagi.

Sungguh perjuangan yang tidak mudah untuk terus selalu mengingatkan anak-anak agar shalat tepat waktu. Semoga setelah lulus dari SD Alam Bengawan Solo, mereka bisa mandiri dalam mengatur waktu ketika shalat maupun kegiatan lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *