Belajar Tanggung Jawab Sejak Dini ( Jurnal Outing Class Kidoland )

 

Outing Class Kelas 2 kali ini menuju Kidoland dari beberapa waktu sebelumnya yang kami selesai belajar di salah satu pabrik jamu besar di Sukoharjo. Khidoland adalah wahana bermain , taman jamu, tempat berenang dan mengenal hewan-hewan yang beberapa darinya belum pernah kami temukan saat kami di rumah ataupun saat di sekolah. Eits tapi kali ini kami tidak menaiki Garuda Bunafsi (Mobil Elf Milik salah satu wali yang biasa mngantar kami outing class), namun jalan kaki. Ya tepat dimana matahari ada di atas kepala kami, jalan kaki menjadi cara kami menuju Kidoland yang jaraknya sekitar 2 km lagi dari Gujati. Dengan membawa tas yang penuh dan juga pot bunga hasil kami menanam di Gujati, kami pun memulai perjalanan. Beberapa dari kami mengeluhkan beratnya barang bawaan, Yogi dan Vian mencoba membujuk Mas Niko untuk membawakan beberapa barang yang mereka bawa, Nada dan Nida yang memiliki postur tubuh paling kecil dari kawan selainnya pun mengeluhkan hal yang sama, jika mereka merasa berat dan meminta untuk lebih banyak beristirahat saat perjalanan. namun Mas Niko menolak dengan halus, mengingatkan akan tanggung jawab dan juga berusaha untuk tidak terlalu banyak memanjakan diri saat berada diperjalaan. Akhirnya mereka tetap membawa barang bawaan mereka sendiri.


Beberapa dari kami bergerak lincah sana sini melewati sungai kecil di pinggir sawah dan ada pula yang berjalan di pinggir sawah seolah sedang meniti dan berpetualang layaknya si bolang. Di dalam perjalan pun tak jarang kami disapa oleh warga yang lewat karena penasaran dengan rombongan kami, beberapa menawarkan bantuan untuk membawakan barang bawaan kami. Jibril dan Bahy menolak dengan halus kepada seorang bapak yang membawa sepeda yang kebetulan ada bronjong kosong di belakangnya. Mereka lebih asik sendiri berjalan dengan bawaan mereka yang banyak, mungkin sih sebagian dari perasaan mereka juga tidak ingin merepotkan bapak tua tersebut. Ah bagiku ini pemandangan yang indah dari apa yang mereka lakukan saat itu.
Sekitar 20 menit kami berjalan, kami menemukan sebuah warung kosong di pinggir jalan. Karena banyak pohon rindang di sekitarnya, kami putuskan untuk beristirahat sejenak di sana. Membuka bekal makanan ringan yang kami bawa. Bahy dan Rafka memulai membuka jamu saset yang menjadi souvenir saat kami di gujati, karena merasa 1 tidak cukup, beberapa bungkus kami buka dan beberapa langsung kami cemili tanpa air. Manis, namun rasanya gatal juga di tenggorokan. Kami juga berbagi bekal kami dengan kawan selainnya, Zaha dan Namira menemukan kursi santai, dengan gaya bak sedang berjemur di pantai, mereka berdua memanggil Mas Niko dan Mbak Merlinda menunjukan bahwa mereka sedang bersantai sambil mengejek mereka yang duduk di bawah tanah tanpa alas. Dengan senyum manis mereka tertawa sambil kembali mengunyah setiap bekal yang mereka bawa.
Perjalanan tinggal 30% lagi, namun Mbak Mer menawarkan kepada Mas Nik untuk mencari tumpangan saja bila ada mobil bak terbuka lewat, karena melihat kondisi yang sangat panas dan juga beberapa anak sudah terlihat lemas, termasuk Mbak Merlinda sendiri yang masuk fase tamu bulanan pertamanya. Panjang umur, baru saja kami berbincang tentang mencari tumpangan, mobil bak terbuka putih terlihat akan melintas, Mas Niko, Bahy dan Rafka yang paling antusias untuk memberhentikan, tangan kami lambaikan, Alhamdulillah mobil itu mau berhenti. “Ngapunten Pak, menawi kulo kalian cah bocah niki ajeng nunut ngantos Kidoland ngoten saged nopo mboten nggih”, ijin Mas Niko pada pak supir. “Omahku mung nang ngarep kono wi Mas, ning yo ra popo, tak terke tekan nggon e, kolam renang kae to , yo wes ndang munggah”. Masyaallah padahal rumah sang bapak hanya tinggal beberapa puluh meter dari tempat kami istirahat tadi, tapi dengan kerendahan hatinya beliau mau mengantar kami sampai ke tempat tujuan. Anak-anak begitu antusias menaiki mobil, walau sedikit berdesakan, dan beberapa tanaman kami tertindih, setidaknya kami bisa lebih menghemat energi menuju Kidoland dan rumah Nida. Ah berkah Allah sekali memudahkan jalan kami kali ini. Sambil bernyanyi ringan dan melihat samping kanan dan kiri yang tandus dan dipenuhi pohon jati yang berguguran sebagai penghias jalan kami. Tak hanya itu, jalan berlubang parah pun membuat kami naik turun dan tertawa dan mobil bergoyang-goyang.


Kurang dari 10 menit kami sampai ke tempat tujuan, kolam renang menjadi penyambut kami menuju pintu masuk. Setelah bersalaman dengan pemilik mobil dan berterimakasih atas tumpangannya, kami pun masuk dan mengincar gazebo yang dekat dengan kolam renang. Sejuk dan juga masih asri, yang lebih penting lagi adalah sepi hehe. Sebagian dari kami mengisi waktu ngaso kami dengan makan siang, anak laki-laki sudah melepas baju dan berganti dengan pakaiaan yang akan dipakai untuk berenang. Sedangkan ciwi-ciwi selepas makan siang berenang sejenak dan mengajak mas Niko pergi menemani ke kolam ikan terapi. Mas Niko yang paling berani untuk memasukan kakinya lama ke kolam ikan terapi, anak-anak merasa geli melihat kaki Mas Niko di serbu banyak ikan yang makan sel kulit mati. Anak-anak yang melihat hal tersebut ikut memasukan kakinya. Ada yang takut ada yang menikmati sambil merem melek. di lanjutkan dengan belajar tentang macam tanaman jamu disana, sangat berfariasi dan banyak hal yang baru kami sadari bahwa indonesia sangat kaya akan tumbuhan yang bisa menyehatkan tubuh manusia. di sana kami juga melihat hewan dan Mas Niko tak lupa mengajak kami untuk sejenak berpikir tentang hewan-hewan yang kami lihat di sana, mengapa landak memiliki punggung lancip, mengapa ular piton badannya besar namun tidak berbisa, mengapa burung merak yang laki-laki ekornya panjang dan besar seperti kipas sedangkan yang betina tidak, serta masih banyak lagi, seru, tak hanya melihat, namun kami belajar banyak hal dari sana.


Saat berada di Kidoland ada hal yang cukup menarik dari Yogi, salah satu dari anak kelas 2 dayak yang pemalu dan juga suka berimajinasi sendiri ini. Saat beberapa temannya terlihat menyewa ban untuk berenang, Yogi dengan kepolosannya ikut mengambil ban. Setelah beberapa teman selesai memakai, mengembalikan dan membayar ban, Yogi yang pada saat itu kebingungan, karena ia ternyata tidak tahu jikan ban yang ia pakai harus di bayar, dan apesnya saat itu tidak membawa uang, entah dia lupa menaruh atau memang tidak membawa uang saku sama sekali. Wajah melas pun ia lempar keaarah Mas Niko untuk membantunya membayar ban yang sudah dia sewa. Saat itu Mas Niko tidak semudah itu menuruti permintaan Yogi.
“ Sekarang Yogi bertanggung jawab dengan apa yang sudah Yogi perbuat, jika Yogi yang meminjam maka tanggung jawab membayar ada pada Yogi, monggo Yogi gimana caranya untuk mendapatkan uang untuk membayar tidak setiap hal yang Yogi lakukan harus orang lain yang menanggungnya.”
“Terus piye Mas ?”
“Ya monggo, Yogi bisa coba cari cara sendiri atau diskusi sama temen kamu gimana agar kamu bisa bayar sewa ban tadi”
“Nek iki piye ?” sambil memperlihatkan jamu saset yang di dapatkan dari Gujati
“Meh mbok piyekne ?”
“ Di dol, tapi piye mas carane ?”
“Yo coba kamu cari temanmu dan ceritakan kondisimu, barangkali nanti temanmu bisa ikut membantu”
Yogi saat itu berlari kea rah Bahy, saat itu yogi menceritakan kondisinya yang tidak bisa membayar ban kepada Bahy dan ia menjual jamu dengan harga Rp 1.000 per sasetnya. Melihat Yogi yang kesulitan Bahy membeli beberapa jamunya, Nabil dan Vian melihat dan bertanya tentang apa yang sedang terjadi. Mendengar cerita Yogi, akhirnya Nabil dan Vian membantu menjualkan jamunya ke penggunjung Kidoland lainnya. Betapa pedulinya mereka melihat kondisi salah satu sahabatnya yang kesulitan, hingga mereka mau panas-panasan , memberanikan diri menawarkan jamu kepada orang yang baru dikenal, hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan uang 8.000 dan bisa digunakan untuk membayar sewa ban yang hanya 5.000 saja. Dengan pengalaman bersama tersebut membuat teman lainnya terdorong untuk berjualan juga. Gairah kepedulian dan mencari pengalaman baru dari anak-anak sangat terasa, hingga momen yang sederhana tersebut justru menjadi pengalaman yang penting dalam pembentukan kepribadian mereka di masa depan.

 

by : Niko Putra Sadewa ( Fasilitator Kelas 2 tahun ajaran 2019/2020 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *