Cerita Night Camp Kedua Tahun Ajaran 2016/2017

Langit tampak cerah di tengah kepungan hujan yang sering membayangi. Maklum, tahun 2016 ini seolah Allah hendak memberitahukan bahwa Dialah yang pengatur hujan ketika manusia terlalu lama percaya pada teori musim kemarau dan musim penghujan. Sore itu, langit tampak cerah dan tidak ada tanda-tanda hujan dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Siswa-siswa SABS sudah berdatangan ke sekolah. Mereka segera membantu para fasilitator untuk mendesain tempat yang akan digunakan untuk kegiatan Night Camp kedua tahun ajaran ini. Ada yang membuat display karya anak-anak, ada yang menyiapkan panggung untuk pentas dan diskusi, ada yang mendirikan tenda untuk tidur malam.

2

Beberapa orang tua tampak hadir sejak sore dan turut melihat-lihat display karya anak-anak selama tema kedua tahun ajaran ini. Kelas satu menampilkan aneka karya sepeda yang dikerjakan bersama orang tua dalam program Work with Parents (WWP) sebagai bentuk parenting sekaligus pembelajaran untuk anak melalui integrasi komunikasi sekolah dan keluarga. Kelas lainnya pun tak kalah dengan tampilan karya-karya mereka.

31

Malam pun tiba. Setelah anak-anak menikmati hidangan malam dengan segala keriuhannya, bersamaan dengan itu orang-orang tua siswa juga banyak yang mulai berdatangan, semua dikumpulkan di lapangan tempat diskusi. Shalat isya kali ini sangat spesial karena siswa diajak langsung shalat di atas rumput, tanpa sajadah. Semua harus merasakan sujud kepada bumi-Nya tanpa terhalang oleh kemewahan dunia.

33

Setelah itu, pentas pembukaan pun mulai digelar. Sesuai dengan tema Night Camp ini yang mendatangkan salah seorang perkusionis berkelas internasional, mas Suryadi Plenthe asal Solo, maka pentas anak-anak pun seputar perkusi. Mereka berlomba tampil membunyikan benda-benda dengan irama pukulan tertentu. Ada kelompok yang tampil kompak, ada pula yang ancur. Tapi semua itu tidak menjadi soal, karena yang terpenting keceriaan dan rasa percaya diri untuk mementaskan karya.

Belajar Bunyi & Frekuensi

Setelah pentas selesai, acara dipuncaki dengan diskusi yang menghadirkan mas Plenthe. Dengan dimoderatori oleh Yuli Ardika, mas Plenthe mengajak orang tua untuk kembali meneliti salah satu fenomena ciptaan Allah yang berupa bunyi dan frekuensi. Kedua hal itu saat ini luput dari perhatian orang tua, padahal dari kedua elemen itulah banyak hal dalam kehidupan ini dapat direkayasa.

9

Sebagai seniman yang tumbuh secara alami dan mengalami banyak penempaan di bidang yang ditekuninya sebagai pemain kendang dan aneka perkusi, mas Plenthe banyak mengungkap rahasia Allah terkait dengan bunyi. Menjadi seniman seharusnya dipahami sebagai amanah, karena dari karya-karya mereka itulah moral masyarakat dibentuk. Sehebat-hebatnya ustadz berceramah mereka akan kalah dengan para musisi dan seniman. Maka dari itu, menjadi seniman itu memiliki konsekuensi yang berat jika berbuat salah, sekaligus memiliki peluang berbuat kebaikan yang besar.

Beliau mencontohkan upaya konkrit yang telah dilakukannya dengan melakukan edukasi ke masyarakat di desa tempat kelahirannya dan menggelar festival tahunan dengan nama Festival Pager Desa. Dengan tajuk itu, beliau mengajak masyarakat untuk kembali menyeleksi musik-musik yang memiliki daya rusak pada moral seperti jenis dangdut koplo dan berbagai musik keras yang membuat pendengarnya meningkat egonya. Beliau meracik konsep musik yang apik untuk dinikmati masyarakat desa agar kembali menemukan musik yang bermartabat.

Kebiasaan masyarakat yang membenturkan antara musik dengan perkara-perkara agama sebenarnya tidak lepas dari ketidaktahuan mereka bahwa kehidupan ini sangat musikal. Seharusnya para tokoh agama juga belajar tentang seni agar dapat menggiring masyarakat untuk kembali pada hal-hal yang baik sebagaimana dicontohkan para wali di masa dahulu.

Beliau menggarisbawahi bahwa telinga itu ibarat microphone dan mulut ibarat speaker. Apa yang masuk lewat microphone, itulah yang keluar lewat speaker. Jika generasi saat ini lebih sering mendengar berbagai umpatan, makian, dan hiburan yang merusak, maka kelak akan lahir generasi yang pemikiran dan karyanya rusak. Sebaliknya, jika generasi saat ini dijaga agar memiliki kendali pikiran yang baik untuk memilah dan memilih bunyi-bunyi yang mesti ia dengarkan, maka insya Allah kerusakan generasi yang lebih parah dapat dihindari.

32

Acara diskusi selesai dan hari sudah larut malam. Semua siswa diwajibkan tidur dan orang tua pun pulang ke rumahnya masing-masing sambil membawa rapor yang dilaporkan para fasilitator di sela-sela kegiatan. Dini hari mereka dibangunkan untuk mengikuti kegiatan jelajah desa.

Jelajah Pagi Mengenal Desa

Jika di Night Camp pertama anak-anak hanya diajak jalan-jalan mengenal desa, pada Night Camp kedua kali ini mereka dibagi dalam beberapa kelompok dan ditugasi untuk memungut bendera yang diletakkan di beberapa titik penting di desa Serenan dan Gondangsari. Mereka cuma dibekali peta buta dari Google Maps.

24

18

Setiap kelompok didampingi oleh seorang fasilitator yang bertugas untuk mengamati bagaimana proses kerjasama, diskusi, dan mengukur kepahaman anak-anak terhadap apa yang ditugaskan selama jelajah desa. Mereka juga dibiasakan untuk melihat keadaan alam desa yang masih hijau dengan hamparan sawah, matahari terbit, dan berbagai hal yang mungkin sudah lenyap dari ingatan orang-orang kota.

14

25

Setiap kelompok terdiri dari anak kelas I sampai kelas VI. Mereka dilatih untuk membangun kedekatan dan interaksi yang bagus sebagai sesame siswa. Hasil pengamatan ini nantinya akan dijadikan bahan diskusi para fasilitator untuk melakukan penanganan kepada para siswa di kegiatan selanjutnya.

Setelah berjalan kaki berkilo-kilo melewati sawah, pemukiman, hingga menyeberang jembatan, para siswa kembali ke sekolah, sarapan dan pulang.


Fotografer : Sitoresmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *