Lost in Solo

Pagi itu kita bersiap gowes Solo. Semua telah siap dengan ransel dan nangkring di sepada masing-masing. Tersisa Oca yang masih menanti kiriman sepeda. Jadi ceritanya tadi tu Oca dianter sama Ayah dan sepedanya disusulkan kemudian. Oke, sepeda Oca datang. Kitapun bersorak girang. Mengawali gowes dengan doa bepergian dan naik kendaraan. Solo…. we are coming….

Mas Jefry berada di barisan depan dan kita beriring di belakang. Menikmati setiap kayuhan dan putaran roda sembari melempar pandang pada hamparan sawah begitu mendamaikan. Ya, itulah yang kita dapatkan di awal gowesan. 45 menit mengayuh sepeda membuat sebagian kita ingin melepas dahaga. Jadilah kita menepi di pinggir empang sebuah desa. Entah apa nama desa itu. Memarkir sepeda, meneguk air, ngemil dan sejenak ngadem. Hingga terdengar desis angin yang keluar dari sebuah ban. Roda belakang sepeda Iffah kempes. Fergy telah mencoba tuk mempompa ban itu sebelum akhirnya kita memutuskan untuk mencari tukang tambal ban. Alhamdulillah tak jauh dari sana ada tukang tambal ban. Beberapa dari kita begitu antusias melihat proses ban itu ditambal. Sekitar 15 menit ban sepeda selesai ditambal. Kita pun melanjutkan perjalanan yang tertunda.

1

2

Di beberapa ruas jalan kita melihat tanaman kaktus yang berjajar. Setiap kali dari kita melihat kaktus, kita teriak kesemua, “hai….ada kaktus…”. kaktus menjadi tanaman yang special bagi kita hampir dua bulan ini. Ya, tema kelas kita kaktus. Saung baru yang kita tempati pun akhirnya kita namai dengan saung kaktus. Saung yang di sisi depan kirinya kita letakkan pot-pot kaktus, yang di sisi depan kanannya kita buat taman mini. Perjalanan kita ke solo ini juga masih bagian dari tema, meski yang kita tuju bukan kaktus namun masih ada kaitannya dengan salah satu flora.

Entah berapa puluh menit yang kita lewati ketika sampai pada suatu pemandangan yang menyuguhkan gedung-gedung tinggi dan pertokoan. Berbeda dengan yang tadi kita jumpai di awal perjalanan. Tak ada lagi sawah membentang. Hanya ada kendaraan berbagai jenis bersusulan di jalan yang lajur kirinya kita lewati berjajar.  Semakin ke utara semakin padat jalan dengan kendaraan. Keheningan pun tertinggal berganti kebisingan. Terik panas membuat butiran peluh berjejal keluar. Namun ini tak menyurutkan kami tuk meneruskan perjalanan. Hingga sampai pada lampu merah dan sebagian kita telah berhasil melewatinya sementara sebagian yang lain tertahan. Di sini hal aneh pun terjadi. Entah apa yang kupikirkan. Saat itu tak kulihat satu pun teman-teman ada di depan atau di belakang. Padahal sebelumnya masih ada Dayan, Fergy, Veti dan Iffah. Dimana mereka dan yang lainnya?

3

4

Kucoba tuk mengambil jalan kekiri, namun tak terlihat jejak mereka. Ku berbelok ke kanan dan menyusuri jalan, tak nampak pula jejak mereka. Aku mulai panik terlepas dari rombongan. Kuputuskan menepi dan mengambil napas dalam. Mengingat kata Mas Jefry yang sempet kudengar, “lewat pasar kembang”. Rada aneh juga sih, ko lewat pasar kembang? Kulajukan sepedaku ke jalan yang mengarah ke pasar kembang. Tak juga kudapati mereka. Hhmm… kuambil ponsel dan ku hubungi Mas Jeff. Tak ada jawaban sampai empat kali panggilan. Kucoba lagi, barulah terdengar suara disebrang. “Mas Jeff lewat mana?”, kataku. “Mbak nita dimana?”, jawabnya balik tanya. Kusampaikan posisiku dan ternyata aku melewati satu tikungan dimana mereka berbelok tadi. Kuberbalik arah dan kugowes sepedaku lebih kencang. Kulihat rombongan mereka di depan. Hufh… lega.. Alhamdulillah

5

 Sempat merasa geli dengan diri sendiri. Kususul mereka dengan senyum tersungging. Menertawai diri sendiri yang bisa-bisanya terlepas dari barisan. Kalau yang terlepas anaknya masih mending. Lha ini yang terlepas emaknya. Di kota Solo lagi. Kotaku sendiri. Kota yang notabene nya adalah kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Ngakak puol….wkwkwkwk


Anitasari (Fasilitator kelas VI TA 2016/2017)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *