Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS) adalah sebutan untuk sebuah komunitas pendidikan yang berada di kawasan tepi Sungai Bengawan Solo, tepatnya di dusun Panjangan, Gondangsari, Juwiring Klaten. Komunitas ini dirintis oleh Suyudi Sastro Mulyono.

Kegiatan yang berada di dalamnya dinaungi oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Taruna Teladan dan Yayasan Taruna Bengawan Solo.


#1

Pada awalnya, lelaki lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta yang justru menjadi pengusaha meubel itu merasakan kegelisahan tentang kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin memprihatinkan, khususnya dalam pembentukan karakternya. Akhirnya dia mulai menggagas sebuah komunitas pendidikan yang merdeka dan kreatif untuk menjawab permasalahan tersebut.

Bagi Suyudi, dari pada menuntut pemerintah terlalu berlebihan, lebih baik berbuat sesuatu yang berguna untuk mendidik generasi bangsa. Pada tahun 2006, dia mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Taruna Teladan di bawah akta notaris Saleh Hartanto, S.H. Dari PKBM; dirintislah PAUD dan TK; kemudian Taman Bacaan Masyarakat; program keaksaraan; Kejar Paket A, B, dan C; dan Program Pemberdayaan Perempuan.

Gerakan pertama yang dirintis Suyudi ini dirasakan belum sesuai dengan harapannya karena masih seperti pada umumnya. Suyudi pun mulai mendirikan saung-saung dari kombinasi kayu dan bambu di area bantaran dan sempadan Sungai Bengawan Solo yang menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, di perbatasan antara Kabupaten Klaten dan Sukoharjo. Meski belum menemukan sosok guru yang sesuai dengan harapannya, Suyudi tetap optimis melanjutkan pembangunan saung-saungnya, sembari mengawal keberjalanan PKBM yang sudah dirintisnya.


#2

Pada akhir tahun 2010, Suyudi bertemu dengan salah seorang arsitek muda dari almamater yang sama dengannya, Jefri Nur Arifin. Kejenuhannya pada profesi arsitek profesional membuatnya memilih pulang ke desa dan bergabung dengan gerakan yang dirintis Suyudi. Jefri bersedia untuk menjalankan sekolah alam sesuai apa yang dipikirkan Suyudi selama ini. Ilmu arsitektur dan perencanaan wilayah yang dipelajarinya selama kuliah, mulai ia konversi menjadi bahan untuk menyelenggarakan sekolah. Kini ia menjadi bagian dari arsitek peradaban.

Melihat peluang usaha baru, Suyudi memilih memutar haluan bisnisnya dari bisnis meubel ke handycraft. Melihat pilihan bisnis Suyudi yang berubah haluan dan mendengar gagasannya tentang sekolah alam, salah satu rekan bisnisnya yang berkebangsaan Jerman-Australia Hans Butter Muler (alm) menyatakan kesediaannya untuk mendukung perwujudan sekolah alam. Dukungan juga datang dari Indrawan Yepe, pendiri training Quantum Confidence dan Bunda Nunik, salah satu pegiat pendidikan di Kabupaten Klaten.

Pada tahun ajaran 2011/2012, sekolah alam tingkat sekolah dasar resmi dibuka dan berhasil menjaring 16 siswa angkatan pertama. Nama Sekolah Alam Bengawan Solo didasarkan pada lokasi dan ikon yang ingin dibangun di masa depan. Karena para orang tua menghendaki adanya status yang jelas untuk persekolahan tingkat dasar yang diselenggarakan, ketika siswa angkatan pertama memasuki kelas 2, Suyudi dan Jefri mengurus izin operasional sekolah. Namun Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten belum mengabulkan karena sekolah tidak memiliki Yayasan sebagai salah satu syarat berdirinya sekolah swasta.

Aktivitas persekolahan terus berjalan. Siswa-siswa yang masuk tidak hanya di awal tahun pelajaran, tapi juga banyak siswa pindahan yang mendapat catatan buruk di sekolah asalnya. Hal ini semakin mengukuhkan SABS sebagai sekolah harapan orang tua ketika anaknya tidak mendapat tempat di sekolah biasa karena dianggap “nakal” dan “tidak normal”, tetapi juga enggan memindahkan anaknya ke sekolah luar biasa. Beberapa anak hiperaktif dan diseleksia pun diterima bersekolah di SABS.


#3

Untuk mendirikan yayasan yang menaungi SD Alam Bengawan Solo, Suyudi harus menabung sedikit demi sedikit. Selain itu Suyudi juga masih bergerilya mencari orang-orang yang sepemikiran dengan gerakannya untuk mewujudkan yayasan tersebut. Akhirnya dia bertemu dengan akademisi dari Universitas Sebelas Maret yang bersedia menjadi pembina Yayasan, Dr. Sutanto, S.Si., DEA. Selain itu, Suyudi juga mendapat dukungan dari mantan Komandan Batalyon 21 Grup 2 Kopassus, Muhammad Aidi untuk pendirian yayasan.

Didukung beberapa tokoh yang dulu merupakan kolega-koleganya, didirikanlah Yayasan Taruna Bengawan Solo pada bulan Juni 2014 di bawah akta Kementerian Hukum dan HAM nomor AHU 02330.50.10.2014. Dengan berdirinya Yayasan ini diharapkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang ada selama ini telah berjalan memiliki payung yang kuat. Dan yang terpenting SD Alam Bengawan Solo mendapatkan izin operasionalnya. Untuk memaksimalkan pembangunan infrastruktur sekolah, Suyudi memutuskan untuk menghentikan usaha bisnisnya sementara.

Karena keterbatasan personil dan anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan di SD Alam Bengawan Solo, pengajuan izin berikutnya baru dilakukan pada tahun 2016. Hal ini dapat dilakukan setelah bergabungnya beberapa fasilitator baru yang sesuai dengan apa yang diharapkan Suyudi dan Jefri selama ini. Meskipun para siswanya terlanjur di tingkat akhir, para pejuang SABS optimis bahwa izin akan segara turun untuk memenuhi keingingan sebagian besar orang tua, kendatipun sebenarnya ijazah paket A sudah diakui setara dengan SD berdasarkan Surat Edaran Mendiknas nomor 107/MPN/MS/2006.

Selain itu, pada tahun ajaran 2016/2017, SABS juga telah merintis sekolah lanjutan nonformal untuk siswa-siswa yang telah lulus SD di bawah PKBM Taruna Teladan. Nantinya para siswa yang menghendaki ijazah akan diikutsertakan dalam ujian kesetaraan paket B dan paket C. Tapi lebih dari itu, tujuan penyelenggaraan sekolah lanjutan nonformal adalah untuk memberi jalur alternatif kepada para orang tua yang ingin anak-anaknya menguasai keterampilan dan kecakapan hidup yang lebih cepat dibandingkan melalui jalur pendidikan formal. Melalui jalur nonformal, penguasaan kecakapan hidup siswa akan lebih luas dibandingkan mengikuti kegiatan pendidikan formal.


#4

Sekarang SABS sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas dan terus melakukan perbaikan baik dalam manajemen organisasi dan penyelenggaraan program-programnya. Harapan ke depannya, SABS menjadi pelopor berdirinya sebuah kawasan pembelajaran yang terintegrasi di tengah masyarakat, tidak hanya di tingkat pendidikan dasar, tetapi juga tingkat menengah dan umum dengan pendekatan nonformal. Inilah wujud nyata kontribusi SABS untuk Indonesia.