Sekolah Alam Bengawan Solo: Ubah Masalah Jadi Berkah

Semua berawal dari tepi sungai Bengawan Solo di Jawa. Sungai legendaris itu tidak hanya menginspirasi seniman atau penggubah lagu seperti Gesang, tetapi juga para entrepreneur muda Indonesia. Peradaban-peradaban besar dunia juga muncul dari sungai-sungai besar.

Tidak terkecuali Jefri Nur Arifin dan kawan-kawannya yang tergerak untuk memanfaatkan potensi ekonomi Bengawan Solo. Ia ingin DAS Bengawan Solo di Klaten menjadi sumber inspirasi 12 kabupaten lainnya di provinsi Jawa tengah untuk berbagi pengelolaan dan pemanfaatan DAS secara bersama-sama. Karena itu, sebagai bagian dari tugas akhirnya, …. dan kawan-kawannya mengajak melestarikan daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo yang kerap dilanda kekeringan dan banjir serta tercemar oleh sampah dan limbah.

“Caranya bagaimana? Kami terpikir mendirikan sekolah karena akan lebih kontinu,” tutur alumni Universitas Negeri Surakarta (UNS) jurusan ilmu arsitektur itu pada Ciputraentrepreneurship saat ditemui di Jakarta.

Untuk merealisasikan, mereka menemui sejumlah orang tua yang memiliki anak-anak usia sekolah.

Karena mengelola sekolah membutuhkan biaya, mereka pun memutar otak untuk menemukan sumber pemasukan. Mereka ajak para orang tua murid untuk membuat berbagai kerajinan dari sisa kayu furnitur yang tersedia melimpah di sekitar mereka. Dari kayu-kayu itu, dibuatlah mainan edukasi bagi anak-anak. Dari uang penjualan mainan edukasi itu, semua kegiatan operasional sekolah akan bisa dibiayai. Kegiatan-kegiatan itu misalnya pembangunan saung, gaji para guru TK (7 orang) dan para guru SD (6 orang) di sekolah alam itu.

Para orang tua murid juga mendapat edukasi. Sekolah Alam Bengawan Solo ini mengajak para orang tua mengumpulkan dan mengolah sampah yang mereka miliki di rumah.

Sekolah dengan 50-an siswa TK dan 45 siswa SD ini memiliki bangunan sekolah yang berupa saung dari kayu dan bambu. “Saung kami yang berada di DAS Bengawan Solo berada juga di tanah orang tua murid,” ujarnya. Letaknya tepat di atas tanggul Bengawan Solo.

Selama 3 tahun sejak didirikan, sekolah itu dapat terus berkembang berkat sokongan dana dari para orang tua murid yang lebih mampu secara finansial. “Sementara yang kurang mampu, kami ajak membuat mainan edukasi,” ungkapnya lagi.

Berawal dengan mengusung konsep pendidikan informal, sekolah alam ini berencana mengubah status menjadi yayasan agar pendidikannya lebih formal seperti yang dikehendaki orang tua murid.

Namun, itu cuma berlaku untuk tingkat SD, katanya. “Untuk SMP dan SMA, lebih cocok informal karena kurikulumnya akan berbeda dari sekolah dasar. Kami ingin mereka belajar berbisnis,” tegasnya. Keinginan itu dilandasi oleh kenyataan bahwa menerapkan kurikulum wirausaha seperti itu masih sulit untuk sekolah umum.

Sekolah alam ini menampung anak usia PAUD hingga kelas 4 SD yang asalnya bermacam-macam. Mereka tidak hanya dari daerah sekitar desa tetapi juga dari Wonogiri. “Orang tua itu ada yang rela naik motor 1 jam hanya untuk mengantar anaknya ke sekolah alam Bengawan Solo ini,” ucap pria muda itu.

Sekolah Alam Bengawan Solo ini selain berkonsep unik, juga memiliki murid-murid yang unik. Beberapa di antaranya memiliki kebutuhan khusus karena menderita disleksia, hiperaktif.

Sekolah menghormati keunikan masing-masing anak. Anak didik tidak dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran yang ada. Dan para guru yakin jika anak didik memiliki ’kekurangan’, mereka juga pasti memiliki kelebihan yang masih terpendam.

Selain untuk memberikan akses edukasi pada anak-anak yang membutuhkan, sekolah ini juga ingin menerapkan konsep eko wisata. “Kami ingin menjaga DAS Bengawan Solo agar tetap berguna bagi masyarakat secara sosisla dan lingkungan.”

Jefri bersemangat untuk mendapatkan mitra-mitra yang bersedia menampung anak-anak didik mereka yang ingin belajar suatu bidang melalui program magang. “Misalnya jika ada anak yang ingin belajar tata boga, ia bisa diarahkan untuk magang pada mitra yang memiliki bisnis boga dan ia tidak perlu lagi sekolah. Cukup belajar di sana sampai jadi ahli boga,” tegasnya lagi.

Anehnya, mereka belum mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan. Namun demikian, Bappeda sudah menyambut baik proposal alokasi dana. Pengajuan izin operasional sekolah pun 3 tahun belum dikantonginya. “Karena kami sekolah yang aneh!”selorohnya.

Dalam waktu 5 tahun, Jefri ingin sekolah ini memiliki SMP, relaksasi konsep ekowisata dimulai dan nanti dikelola bersama dengan komunitas dan warga sekitar.

 Masuk sekolah dari pukul 8 pagi hingga sore hari tidak membuat anak-anak didiknya kebosanan. Karena mereka dilibatkan dalam berbagai aktivitas lapangan yang mengasyikkan. Anak-anak dipersilakan masuk ruang kelas 2 kali sehari tanpa paksaan. “Jika tidak mau, bukan masalah asal dia masih beraktivitas belajar dan membuat laporan setelah itu.”

Mendengar kata “laporan”, bukan berarti anak-anak didik sekolah alam ini harus menuliskan rincian aktivitasnya. Mereka juga dipersilakan untuk membuat laporan sesuai preferensinya masing-masing. Bila si anak ingin melaporkan dalam bentuk verbal, mereka diperbolehkan. Itu karena setipa anak berbeda dan unik.

Sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com/domestic-company/sekolah-alam-bengawan-solo-ubah-masalah-jadi-berkah

Tinggalkan Balasan