Ide Dianggap Gila, Malah Jadi Rujukan Negara Lain (Suyudi, Pendiri Sekolah Alam Bengawan Solo)

Berbagai persoalan bangsa dinilai Suyudi (50), tidak lepas dari lemahnya karakter. Berawal dari keprihatinan itu, dia mendirikan lembaga pendidikan dengan media alam, Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS).

SEPINTAS, nama SABS terdengar tak jamak. Maklum, sekolah yang dirintis Suyudi pada 2004 itu menempelkan nama sungai sepanjang 501,63 kilo meter itu sebagai identitas.

Sesuai nama, sekolah itu berdiri di tepi Sungai Bengawan Solo, Dusun Panjangan, Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Di tepi hulu sungai terpanjang di Pulau Jawa itu tidak ada tembok bangunan kelas permanen.

Yang ada hanya petak saung atau bangunan kelas menyerupai rumah pohon. Berbahan baku kayu dan bambu, beratap jerami serta dedaunan yang dibiarkan jatuh. Di sekitar saung, ada bermacam tanaman sayur, buah, dan bunga yang aromanya setiap hari menyeruak masuk kelas. ”Dulu ide sekolah dengan media alam ini dianggap gila. Bahkan sekarang masih ada yang mencap gila,” ungkap Suyudi, baru-baru ini.

Menurut pria kelahiran 17 April 1965 itu, ide membuat SABS itu berawal dari keprihatinannya melihat banyak lulusan sekolah formal menganggur pascakrisis 1998-2004. Di mata bapak satu anak itu, fenomena itu disebabkan salah kaprah pendidikan. Siswa hanya dididik menjadi pandai tanpa karakter, jadi penghapal, tidak kreatif, lemah tanpa daya juang, dan lainnya.

Mereka lahir dari industrialisasi pendidikan pascareformasi sehingga terus melahirkan masalah berantai. Dari perenungan itu, lulusan FKIP UNS jurusan sejarah 1989 itu menyimpulkan harus ada pendidikan karakter sejak dini. Juni 2004, Suyudi memutuskan mendirikan PAUD di dekat rumahnya. Bermodal menjual mobil dan uang tabungan usaha mebel, sekolah dibiayai sendiri.

Dua tahun gaji guru dan uang peralatan ditanggungnya tanpa memungut. Dari 35 siswa pada awal berdiri, sekolah yang semula bernama Taruna Teladan itu terus berkembang. Pada 2011, SD dirintis setelah beberapa alumnus UNS bergabung. Kendala lahan sempat membuat hatinya gundah. Setelah konsep sekolah alam ditawarkan, Proyek Bengawan Solo meminjamkan tanah 2,5 hektare di bantaran sungai.

Rawat Sungai

Kenapa sungai? Sungai, menurut Suyudi, merupakan media alam yang tepat mendidik karakter. Selama ini, kata Suyudi, sungai dianggap tempat membuang sampah, meskipun fungsinya sangat vital. SABS didirikan sekaligus untuk menyadarkan masyarakat akan fungsi sungai dan daerah aliran sungai (DAS).

Kurikulum SABS mengacu kurikulum nasional, tetapi ditekankan lima hal, yakni berakhlak, berilmu, punya jiwa kepemimpinan, mental wirausaha, dan berwawasan lingkungan. Siswa tidak hanya diajari membaca, menulis, dan menghitung, tetapi diajarkan mengamati, berkreasi, bereksperimen, dan menggunakan potensi otak kanankiri di alam bebas.

Misalnya, merawat alam dengan menanam, memilah sampah, dan membuat bio pori. Untuk jiwa kepemimpinan siswa diajak out bond, untuk wirausaha diajarkan memproduksi, menawarkan, dan memasarkan barang. ”Saya yakin, 90 persen alam membentuk karakter manusia sehingga saya dirikan di tepi sungai,” kata suami Maryati itu.

Selain lima tujuan pokok, delapan kurikulum pendidikan karakter ditekankan, yakni membangun cinta kebenaran, kekuatan kehendak, ambisi, kesabaran, kasih sayang, naluri sosial, cinta sesama, dan kedermawanan. Untuk itu, peran masyarakat dan orang tua sangat diperlukan. Keberhasilan pendidikan tidak tergantung lembaga tetapi peran komunitas. SABS pun mengadakan program parenting sehingga orang tua berperan.

Untuk orang tua didirikan koperasi dan membuka ruang peran dengan berbagai diskusi. Kini, setelah 11 tahun berlalu, SABS memiliki jenjang PAUD sampai SD dengan 15 pengajar. Siswa di lembaga di bawah naungan Yayasan Taruna Bengawan Solo itu tidak hanya dari Klaten, tetapi dari kabupaten lain, seperti Sukoharjo, Wonogiri, Bogor, Kebumen, Jakarta.

Bahkan dua bulan lalu ada siswa pindahan dari Australia. Dengan konsep karakter media alam, SABS menjadi rujukan studi banding berbagai daerah di Indonesia. Bahkan sekolah dari Malaysia, Perancis, Jepang, Swedia, Kanada, dan Australia pernah datang. (Achmad Hussain- 71)

Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/ide-dianggap-gila-malah-jadi-rujukan-negara-lain/

Tinggalkan Balasan